Oke, ini penggalaman gue belajar nyetir mobil, yah…gue tau, gue memang mahkluk nista, uda segede pentungan tapi belum bisa nyetir mobil!
Gue belajar nyetir mobil pake mobil bokap yang baru aja dibeli (mobil panther, idaman dari bokap gue). Dan bokap gue rela mendidik gue menggunakan mobil barunya itu. ohh…bokap gue emang baik!
Dan dihari pertama gue belajar, sengaja gue memilih dibimbing bokap gue yang terkenal dengan kesabaran dan kewibawaannya dalam mengayomi anak-anaknya, daripada dibimbing kakak gue yang memiliki resiko besar membuang gue dijalan!
“Abah…setelah dihidupin trus diapain?” Tanya gue pelan.
“Coba kamu masukin gigi satu!”
“oke” Gue masukin ke gigi satu.
Fenomena anehpun terjadi, JLEG…JLEK…GREK…
Mobil gue enjot-enjotan,
“kok mati?” gue bingung.
“Terang aja mati, koplingnya nggak diinjek!”
Akhirnya, setelah mendapat kuliah tujuh menit cara menyetir dengan cukup efektif dan tidak membuang nyawa sia-sia, gue bisa mengendalikan mobil dengan cukup lancar. Jalan lurus tanpa hambatan. Tiba-tiba, jalan berbelok menghadang,
“Gimana beloknya?” Gue kalut bukan maen. Gue nggak tau gimana membelokkan mobil segede ini tanpa mengorbankan nyawa gue.
“Udah…dikopling dulu, gas dikurangi, trus stir-nya dibelokin” instruksi bokap gue.
Gue ngikutin instruksi bokap gue. Gue injak kopling, gue kurangi gas-nya, stirnya gue belokin. Alhamdulilah lancar. Tapi sayang, jantung gue berdetak lebih kencang, Gue melihat mobil datang dari arah berlawanan. Jantung gue push up. Keringet gue segede biji duren. Gue panic, “Abah..gimana neh!” Gue mencoba mengendalikan dengan kekuatan penuh.
“Tenang yo, ada abah” bokap mencoba nenangin gue Gue mencoba tenang. Tapi sayang, usaha gue gagal.
Gue masih parno aja. “Tapi bah….ada mobil!”
Abah ikut memegang stir mobil. Dan gue salut, beliau masih tenang.
“Gimana Bah? mobilnya uda deket!” teriak gue mulai kalut.
Bokap gue mulai tampak gusar ngeliat kelakuan gue.
“ABAH…”
“Tenang yo”
“ABAAAAH!” teriak gue makin histeris.
“Tenang!”
“ABAAAAAH!”
Reflek. Gue injek rem.
dan seketika itupula, mesin mobil mati dengan posisi melintang di tengah jalan.
Gue bisa bernafas lega, “Untung nggak nubruk!”
Gue menoleh ke bokap gue, kemudian senyum minta dikulum. gue yakin, bokap gue orang sabar yang memaklumi kesalahan anaknya.
“KAMU TUH NGAWUR…. TUH LIHAT!" tunjuk bokap gue.
gue celingukan.
"MOBILNYA TUH MASIH JAUH!” Bokap gue kalap. Baru kali ini, bokap gue ngomel2!